It's just me, my life, my idea

Nasehat Ustadz Yazid Bin Abdul Qadir Jawas dalam Kewajiban Mendidik Anak

Setiap rumah tangga haruslah memiliki keinginan untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Sehingga setiap anggota keluarga harus memiliki peran dan menjalankan Amanah tersebut. Sang Suami sebagai kepala rumah tangga haruslah memberikan teladan yang baik dalam mengemban tanggung jawabnya karena kelak Allah ‘Azza wa Jalla akan mempertanyakannya di hari Akhir kelak.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَاْلأَمِيْرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang Amir (raja) adalah pemimpin, seorang suami pun pemimpin atas keluarganya, dan istri juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya. Setiap kalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan diminta pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya.”

(Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 893, 5188, 5200), Muslim (no. 1829), Ahmad (II/5, 54, 111) dari Ibnu ‘Umar radhi-yallaahu ‘anhuma. Lafazh ini milik al-Bukhari)

Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِنَّ اللهَ سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ أَحَفِظَ ذَلِكَ أَمْ ضَيَّعَ؟ حَتَّى يَسْأَلَ الرَّجُلَ عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ.

“Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada setiap pemimpin tentang apa yang dipimpinnya. Apakah ia pelihara ataukah ia sia-siakan, hingga Dia bertanya kepada seorang laki-laki tentang keluarganya.”

(Hadits shahih: Diriwayatkan oleh an-Nasa-i dalam ‘Isyratun Nisaa’ (no. 292) dan Ibnu Hibban (no. 1562) dari Shahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu. Al-Hafizh Ibnu Hajar menshahihkan hadits ini dalam Fat-hul Baari (XIII/113), lihat Silsilah ash-Shahiihah (no. 1636).)

Seorang suami harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjadi suami yang shalih, dengan mengkaji ilmu-ilmu agama, memahaminya serta mengamalkan apa yang diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam serta menjauhkan diri dari setiap yang apa yg dilarang Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam serta. Lalu dia mengajak dan membimbing isteri nya untuk berbuat demikian juga, sehingga anak-anaknya akan meneladani kedua orang tuanya karena tabiat anak memang cenderung untuk meniru apa-apa yang ada di sekitarnya.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mendidik anak, di antaranya sebagai berikut.

A. SECARA BAIK dan SABAR MENDIDIKNYA agar MENCINTAI ALLAH dan RASULULLAH

Mendidik anak dengan cara-cara yang baik dan sabar agar mereka mengenal dan mencintai Allah, yang menciptakannya dan seluruh alam semesta, mengenal dan mencintai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang pada diri beliau terdapat suri teladan yang mulia, serta agar mereka mengenal dan memahami Islam untuk diamalkan.

Ajarkanlah Tauhid, yaitu bagaimana mentauhidkan Allah, dan jauhkan serta laranglah anak dari berbuat syirik. Sebagaimana nasihat Luqman kepada anaknya,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.’” [Luqman:(31) 13]

B. Mengajarkannya Kalimat yang Baik serta Bacaan al-Qur’an sejak Dini

Pada usia balita (sekitar 2-5 tahun), kita ajarkan kepada mereka kalimat-kalimat yang baik serta bacaan Al-Qur’an, ajarkan kalimat-kalimat yang baik, seperti ajarkan kalimat Allah, Bismillah, Allahu Akbar, Alhamdulillah. Setiap mau makan ajarkan dengan tangan kanan, baca Bismillah.

Begitu pula ajarkan dan dengarkan bacaan al-Qur’an, dari mulai surat al-Fatihah, surat-surat yang pendek. Dibimbing terus setiap hari siang-malam.

Demikianlah sebagaimana dicontohkan para Shahabat serta generasi Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in, sehingga banyak dari mereka yang sudah hafal Al-Qur’an pada usia yang terbilang sangat belia.

Allah telah memberikan kelebihan kepada manusia pada masa kecilnya dengan kemampuan menghafal yang luar biasa. Oleh karena itu, orang tua harus pandai memanfaatkan kesempatan untuk mengajarkan anaknya dengan hal-hal bermanfaat pada usia-usia tersebut, terutama pada masa balita atau ketika anak masih berusia di bawah 5 tahun.

Usaha ini harus terus dijalankan, meskipun mungkin di sekitar tempat tinggal kita tidak ada sekolah semacam tahfizhul Qur’an. Kita dapat mengajarkan di rumah kita sendiri, sesuai dengan kemampuan kita, karena secara hakikat atau pada dasarnya Al-Qur’an itu mudah.

C. Memprioritaskan Perhatian pada Shalat dalam Pendidikannya

Perhatian terhadap shalat juga harus menjadi prioritas utama bagi orang tua kepada anaknya. Shalat merupakan tiang agama, jika seseorang melalaikannya niscaya agama ini tidak bisa tegak pada dirinya. Shalat ini pulalah yang pertama kali akan dihisab oleh Allah di akhirat.

Untuk itulah, hendaknya orang tua dengan tiada bosan senantiasa memberikan contoh dengan shalat di awal waktu dengan berjamaah di masjid, mengajaknya serta menanyakan kepada anak-anaknya apakah dia telah menunaikan shalatnya ataukah belum.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur 7 tahun, dan kalau sudah berusia 10 tahun meninggalkan shalat, maka pukullah ia. Dan pisahkanlah tempat tidurnya (antara anak laki-laki dan anak wanita).”
(Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 495), Ahmad (II/180, 187) dengan sanad hasan, dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya radhiyallaahu ‘anhum. Dihasankan Imam an Nawawi dalam al maj’mu dan Riyadush Shalihin. Syaikh al Albani berkata : “sanadnya hasan shahih.” Lihat Shahih Sunan Abi Daud (II/401-402, no 509.))

Mengajak istri dan anak untuk melaksanakan shalat di awal waktu, merupakan salah satu perintah dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan kita untuk tetap sabar dalam menunaikan kewajiban tersebut, termasuk sabar dalam mengingatkan istri dan anak kita untuk tetap menegakkannya.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, (melainkan) Kami-lah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertaqwa.” [Thaahaa : 132]

Jika anak laki-laki sudah berumur 7 sampai 10 tahun, maka hendaklah seorang ayah mengajaknya ke masjid untuk menunaikan kewajiban shalat fardu dengan berjama’ah pada awal waktu. Ini merupakan pendidikan praktis yang sangat bermanfaat, karena dalam benak si anak akan tertanam kebiasaan dan perhatian mendalam tentang kewajiban yang mulia ini. Ada banyak hikmah dan manfaat yang terkandung di dalamnya.

Seseorang yang lalai dalam shalat, akan mengikuti hawa nafsunya. sebagaimana firman Allah:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

“Kemudian datanglah setelah mereka, pengganti yang mengabaikan shalat dan mengikuti keinginannya, maka mereka kelak akan tersesat.” [Maryam (19): 59]

Diantara bentuk menyia-nyiakan shalat ialah melalaikan kewajiban shalat, menyia-nyiakan waktu shalat dengan tidak melaksanakannya di awal waktu. Yang dengan sebab itu, mereka akan menemui kesesatan, kerugian, bahkan keburukan. Wallaahu a’lam.
[Lihat Tafsir Ibnu Katsir (V/243-244), terbitan Dar at-Thayybah]

D. Perhatian Orang Tua kepada Anaknya dalam Pembentukan Akhlah yang Mulia

Akhlak yang baik atau mulia memiliki kedudukan tinggi di dalam Islam. Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam menjelaskan bahwa yang banyak memasukkan manusia ke Surga adalah ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan akhlak yang mulia.

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ ؟ فَقَالَ : تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ , وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ؟ فَقَالَ : الْفَمُ وَالْفَرْجُ

Rasulullah ditanya tentang kebanyakan yang menyebabkan manusia masuk Surga, maka beliau menjawab: “Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” Dan ketika ditanya tentang kebanyakan yang menyebabkan manusia masuk Neraka, maka beliau menjawab: “Mulut dan kemaluan”

Hadist hasan: HR. At-Tirmidzi (no.2004), al-Bukhari dalam Adabul Mufrad (no.289/Shahih Adabul Mufrad [no.222]), Ibnu Majah (no.4246), Ahmad (II/291,392,442), serta Ibnu Hibban (no.476-at-Ta’liqatul Hisan), al-Hakin (IV/324) dari Abu Hurairah. At-Tirmidzi berkata: “Hadist ini shahih gharib.” Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadist ash-Shahihah (no.977).

Oleh karena itu, anak harus diajarkan akhlak yang mulia, jujur, berkata baik dan benar, berlaku baik kepada keluarga, saudara, tetangga, juga menyayangi yang lebih kecil serta menghormati yang lebih tua. Sebab, durhaka kepada kedua orang tua termasuk dosa besar yang terbesar setelah syirik (menyekutukan Allah). Maka orang tua harus memberikan teladan kepada anaknya dengan cara dia pun berbakti kepada orang tuanya dan berakhlak mulia.

E. Mengawasi Pergaulan Anak demi Menjaga Agamanya

Perlu diperhatikan pula teman pergaulan anaknya, sebab pengaruh buruk dari temannya akan berimbas pada perilaku dan akhlaknya. Sebagaimana disampaikan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang bergantung pada agama temannya. Maka hendaklah seorang dari kalian melihat siapa temannya.”

(Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4833), at-Tirmidzi (no. 2378), Ahmad (II/303, 334) dan al-Hakim (IV/171), dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadist ash-Shahihah (no. 927).

Apalagi kita mengetahui bahwa sesuatu yang jelek akan mudah sekali mempengaruhi hal-hal yang baik, namun tidak sebaliknya, terlebih dalam pergaulan muda-mudi seperti sekarang yang cenderung melanggar batas-batas etika orang Muslim. Mereka saling khalwat (berduaan antara lawan jenis), sehingga bisikan setan akan menjerumuskan diri kepada zina.

Atau pengaruh obat-obat terlarang yang bisa menjadikan dirinya bergantung dan merasa ketagihan terhadap obat-obat penenang yang diharamkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan (NARKOBA) oleh generasi muda Muslim banyak menjerumuskan mereka kepada kehinaan, kesengsaraan, dan berbagai penyakit yang berbahaya.

Usaha yang telah kita curahkan beberapa tahun bisa saja menjadi sia-sia hanya karena anak kita salah memilih teman bermain di sekolah. Untuk itu, akhlak teman anak kita haruslah diperhatikan; apakah dia memiliki pemahaman agama yang baik; apakah shalatnya baik; apakah dia selalu nasihat-menasihati dan tolong-menolong dalam kebajikan?

F. Berdo’a kepada Allah untuknya dan Keluarga pada setiap waktu yang Mustajab

Di samping ikhtiar untuk membina istrinya sebagai istri yang shalihah, hendaknya seorang suami juga memanjatkan do’a kepada Allah ‘Azza wa Jalla pada waktu-waktu yang mustajab (waktu terkabulkannya do’a), seperti : sepertiga malam yang terakhir. Tujuannya tidak lain supaya keluarganya dijadikan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah; serta agar dia, istrinya, dan anak-anaknya dijadikan termasuk orang-orang yang shalih dan shalihah.

Begitu pula halnya seorang istri berdo’a kepada Allah agar suaminya menjadi laki-laki yang shalih, agar suami menjadi pemimpin yang baik dalam rumah tangga, dan agar anak-anaknya menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah.

Seperti do’a yang tercantum di dalam Al-Qur’an:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“…Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” [Al-Furqaan : (25)74]

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

“… Ya Rabbku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.” (QS. An-Naml [27]: 19)

Seorang suami harus menjadi teladan dalam keluarganya, dihormati oleh sang istri dan anak-anaknya, kemudian mereka menjadi hamba-hamba Allah yang shalih dan shalihah, bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan menjadi orang yang bersyukur.
Semoga apa yang menjadi harapan kita terkabul. Amin.

G. Mengajarkannya Doa-doa dan Dzikir-dzikir yang Shahih

Hendaklah orang tua mengajarkan anak-anaknya berbagai doa dan dzikir shahih yang mudah dihafal. Doa dan dzikir ini sangat bermanfaat untuk dibaca setiap hari di dalam rumah.

Ajarkan juga dzikir pagi dan sore supaya suami, istri, dan anak-anak membaca dzikir pagi dan sore, dzikir-dzikir dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi.

Yang demikian itu dilakukan sebagai pengamalan Sunnah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, dan juga penjagaan diri dari godaan syaitan.
(Silahkan baca dua buku penulis: Doa dan Wirid dan Dzikir Pagi dan Petang yang diterbitkan oleh Pustaka Imam asy-Syafi-I, Jakarta.)

Contoh dzikir yang mudah seperti membaca bismillah ketika mau makan, minum dan mulai sesuatu yang baik; Alhamdulillah apabila selesai makan atau minum. Setelah makan baca doa;

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ

“Segala puji bagi Allah yang telah memberi makanan ini kepadaku, dan Dia yang telah memberi rezeki kepadaku tanpa daya dan kekuatan diriku”

HR. Abu Dawud (no. 4023), at-Tirmidzi (no. 3458), Ahmad (III/439), Ibnu Majah (no. 3285), Ibnus Sunni (no. 467), serta al-Hakim (I/507, IV/192). Lihatlah kitab shahih at-Tirmidzi (III/159, no. 2751) dan Irwa-ul Ghalil (no.2989)


Dinukil dari buku PANDUAN KELUARGA SAKINAH bab 16, hlm 250 sd 258 Penerbit Pustaka Imam Syafi’i- Jkt cet. Ke 15, karya Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.

(gen)