It's just me, my life, my idea

Bank Syariah Riba – Sudut pandang akuntansi sederhana

*Udah lama nyicil tapi kok utangnya baru berkurang dikit? Bank Syariah Riba dong?*

~Sudut pandang sederhana Anak Akuntansi~

Sebelumnya, coba lihat baik-baik ilustrasi di bawah. Kemudian, saya ingin tanya, apakah bedanya:

1. pinjam uang 200 juta di bank konvensional selama 15 tahun dengan bunga 10 % per tahun; dan

2. akad murabahah dengan nilai 200 juta di Bank Syariah dengan margin pertahun 10% dibayar secara cicilan selama 15 tahun.

Beberapa kawan bilang, “ah sama aja, Bank Syariah dan Bank Konven cuma beda istilah aja. Cuma Yg satu pake bahasa arab biar terkesan syariah.”

Oke, coba kita bahas dengan pendekatan ilmu akuntansi sederhana.

Untuk menjawab pertanyaan di atas tadi, saya lanjut dengan pertanyaan, gimana sih Utang yg seharusnya dicatat nasabah ketika 2 akad di atas terjadi:

1. Pinjaman di Bank Konven, Nasabah catat:

(Debit) Cash 200juta
(Kredit) Utang 200juta

Kalau kita pinjem 200 juta ke bank konven, utang dicatat sebesar 200 juta juga ketika uangnya cair dari bank.

2. Akad Murabahah di Bank Syariah, nasabah catat:

(D). Aset Murabahah 200 juta
(D). Beban Tangguhan 300 juta
(K). Utang 500juta

Nah, beda dengan pinjaman bank konven sebelumnya di atas, ketika akad murabahah terjadi, utang kita ke bank syariah itu langsung 500 juta, bukan 200juta lho, catet. Ini pengakuan utang sesuai syariah. Gak percaya? Baca aja Pedoman Standar Akuntansi Syariah 102.

Lalu, apa hubungannya dengan simulasi perhitungan pelunasan pembiayaan murabahah PT Bank Aceh Capem Ar-Raniry plus komentar miringnya itu?

Lagi-lagi, Saya mulai dengan pertanyaan, adakah yg salah dengan perhitungan itu?

Pertama, akadnya Murabahah. Salah satu akad di pembiayaan syariah.

Kedua, utang nasabah itu 500juta lho sesuai pengakuan akad. Lihat Jurnal Akuntansi no. 2 di atas, sengaja saya miripkan angkanya.

Ketiga, ketika tiba-tiba nasabah ingin pelunasan dipercepat. Nasabah harus sadar dengan pembukuannya bahwa Kalau semata-mata melihat nilai utangnya di awal akad, ya seharusnya yg ia bayar itu adalah
500juta dikurangi 91.666.666,67 (angsuran yg sudah dibayar).

Gede banget dong? Ya emang, kan katanya mau akad sesuai syariah, maka pakai nilai utang sesuai akad dong. Lalu pada akhirnya, Sekarang dengan “baik hati”, bank kasih diskon pelunasan (karena dipercepat), itu cerita lain diluar akad pertama. nasabah langsung dapet diskon 200juta lebih lho! Tinggal nasabah mau atau tidak? Kalau cocok, ya ambil. Kalau tidak, kembali ke kesepakatan (akad) pertama.

Udah “baik” gitu, Bank masih disalahin juga? Malah dikatain riba?
Kok tega sih. Balik lagi kalau kita lihat jurnal-jurnal akuntansi di atas, tuduhan itu tega banget. 😅

Ibarat gini, ada orang minta dibeliin motor 10 juta. Oke, akhirnya saya beliin, kemudian saya jual lagi ke dia dengan harga 15 juta, dicicil 5 tahun. Dia setuju. Angsuran lancar. Eh tahun ke-3, dia mau pelunasan dipercepat lalu minta info berapa sisa utang yg harus dibayar. Sebagai penjual, saya putuskan kasih diskon 1 juta, jadi total yg ia bayarin adalah 14 juta minus total angsuran. Saya tanya, gimana mau nggak? Kalau setuju nanti akad pertama kita batalin, kita bikin akad baru dalam rangka pelunasan. Eh, ternyata yg dihutangin, ngatain saya pelaku riba, ga terima dengan tawaran saya. Dishare di medsos lagi.

Akhirnya hukum alam terulang, Yg punya utang lebih galak dari yg ngasih utang. Malah marah-marahin yg udah ngasih utang. 😅

Sumber:

(gen)