Estobayus Note

It's just me, my life, my idea

Catatan Penting Di Balik Kisah Isro’ Mi’roj

CATATAN PENTING DI BALIK KISAH ISRO’ MI’ROJ
(Risalah Buya Yahya)

Segala puji bagi Alloh yang Maha Kuasa. Sholawat serta salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi Muhammad SAW berserta keluarga dan sahabatnya. Di bulan Rajab banyak sekali kegiatan kaum muslimin yang sudah mengakar dari masa kemasa seperti merayakan Isro’ Mi’roj atau berpuasa di bulan Rajab.

Isro’ Mi’roj adalah kejadian yang luar biasa atau mu’jizat yang diberikan oleh Alloh kepada Nabi Muhammad SAW yang di dalamnya terdapat hikmah-hikmah serta ilmu yang amat luar biasa bagi orang yang merenunginya. Kejadian Isro’ disebutkan oleh Alloh dalam Al-Qur’an surat Al-Isro ayat 1. Adapun kejadian Mi’roj disebutkan dalam riwayat-riwayat yang shohih di antaranya riwayat yang disebutkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dalam hadits panjang yang menceritakan tentang perjalanan Nabi SAW saat isro mi’roj.

Ada beberapa hal yang harus dicermati di dalam pelajaran Isro’ Mi’roj.
Pertama; Nabi Muhammad di perjalankan oleh Alloh dari Masjidil Harom ke Masjidil Aqso hingga ke atas langit ke tujuh adalah dengan badan dan ruhnya. Dan badan Nabi SAW masih tetap dalam bentuk aslinya dan tidak berubah menjadi cahaya seperti yang diceritakan oleh sebagian penulis-penulis yang kurang berakal. Sebab yang namanya Mu’jizat adalah kejadian yang luar biasa dan jika Nabi SAW berubah menjadi cahaya maka kejadian itu menjadi tidak luar biasa lagi. Maka di dalam memahami istilah ilmiah seperti ini hendaknya dikembalikan oleh Ulama terdahulu dan jangan menghayal dengan berdalih disesuaikan dengan kajian-kajian ilmiah.

Yang harus dipahami bahwa penemuan ilmiah tidak akan bertentangan dengan syari’at, kalau ada pertentangan antara kajian ilmiah dengan syariat tentu karena salahnya kajian ilmiah atau salahnya seseorang dalam memahami syari’ah. Dan perjalanan Isro’ Mi’roj Nabi tidak bertentangan dengan penemuan ilmiah karena perjalanan Nabi SAW adalah tidak bisa patuh dan tunduk kepada riset dan kajian ilmiah. Akan tetapi kejadian Isro’ Mi’roj adalah terjadi karena kuasa Alloh SWT yang menciptakan waktu dan tempat.

Kedua, perayaan Isro’ Mi’roj maknanya adalah mengagungkan dan menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW, karena perayaan Isro’ Mi’roj akan selalu mengangkat tema kisah Isro’ Mi’roj Nabi, dengan pembahasan panjang lebar dan ditekankan pada pemahaman akan kewajiban sholat, makna-makna sesuatu yang diperlihatkan oleh Alloh kepada Nabi SAW. Dan hal semacam ini tidak bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Nabi SAW. Justru hal-hal semacam inilah yang diperintahkan oleh Rasululloh SAW. Maka sungguh aneh jika tiba-tiba ada orang yang mengatakan perayaan Isro’ Mi’roj adalah bid’ah. Bagaimana mengagungkan kejadian agung, membacakan riwayat dari Nabi SAW serta menjelaskannya agar umat semakin paham tentang Isro’ Mi’roj, hikmah Isro’ Mi’roj, ilmu Isro’ Mi’roj, pesan kesan dibalik Isro’ Mi’roj dan lain sebagainya akan dikatakan sebagai bid’ah? Dan sungguh alangkah indahnya di sebuah acara Isro’ Mi’roj tiba-tiba ada seorang anak kecil menyenandungkan syair untuk Nabi SAW kemudian diikuti dengan santunan untuk anak yatim, kemudian setelah itu berdirilah beberapa Ustadz menjelaskan dengan detail tentang sholat tentang apa yang dilihat oleh Nabi SAW dalam isro mi’roj.

Memang ada sebagian perayaan Isro’ Mi’roj yang dibarengi dengan pelanggaran syari’at, seperti berkumpulnya laki-laki dan perempuan yang saling berdesakan atau mungkin adanya tontonan yang membuka aurat. Akan tetapi orang yang berfikir dan berilmu akan tahu bahwasanya Isro’ Mi’roj bukan seperti itu. Itu adalah pelanggaran-pelanggaran dalam Isro’ Mi’roj yang harus dipangkas. Bukan Isro’ Mi’roj nya yang harus dihentikan.

Adapun hari dan tanggal terjadinya Isro dan Mi’roj memang Ulama berbeda pendapat dalam hal ini .Ada yang mengatakan tanggal 27 Rojab ada yang mengatakan selain tanggal tersebut. Masalah hari dan tanggal tidak penting, yang jelas dan pasti bahwa Rasululloh SAW telah benar-benar isro’ mi’roj dan kita tidak merayakan hari dan tanggal akan tetapi kita merayakan kejadian dan pesan yang ada di dalam kisah isro’ mi’roj .

Ketiga; di saat Nabi Muhammad SAW dimi’rojkan oleh Alloh SWT (diangkat keatas langit ketujuh). Disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW berbicara langsung dengan Alloh SWT. Yang harus dipahami bahwa menurut jumhur ulama bahwa Nabi Muhammad SAW di saat itu tidak melihat Alloh dengan mata kepala beliau, akan tetapi beliau melihat Alloh SWT dengan mata hatinya. Dan memang benar Alloh berbicara dengan Nabi Muhammad adalah dengan hakikat berbicara yang hanya Alloh dan Rasululloh-lah yang tahu caranya. Akan tetapi yang harus kita ketahui bahwa di saat Nabi Muhammad berbicara dengan Alloh bukan berarti Nabi harus melihat dengan mata kepala beliau, ini yang harus kita yakini. Memang ada sebagian para ulama yang mengatakan Nabi Muhammad melihat dengan mata kepala beliau seperti pendapat yang di nukil dari Imam an-Nawawi, Imam Qodi’iyadh dan Imam al-Farro’. Akan tetapi para pakar aqidah Ahlisunnah waljamaah menjelaskan bahwasanya pendapat itu adalah pendapat lemah.

Keempat; Nabi Muhammad SAW berbicara dengan Alloh SWT di atas Mustawa. Mungkin ada sebagian kaum muslimin yang setelah membaca kisah Isro’ Mi’roj dan kisah Nabi SAW berbicara dengan Alloh SWT di atas Sidratul Muntaha dan di atas Mustawa lalu berangan-angan bahwa Alloh ada di atas langit sana. Maka yang harus dijelaskan bahwa atas Mustawa bukanlah tempatnya Alloh, akan tetapi tempatnya Nabi SAW. Alloh tidak butuh kepada tempat. Maka jangan dikatakan Alloh di atas, sebab atas dan bawah adalah ciptaan Alloh SWT.

Disebutkan juga di dalam Al-Qur’an, Alloh mengajak bicara Nabi Musa As , di saat Nabi Musa berada di atas bukit Tursina, maka yang harus dipahami adalah bahwa bukit Tursina adalah tempatnya Nabi Musa, bukan tempatnya Alloh. Lalu “Alloh dimana?” Jawabnya adalah karena Alloh tidak butuh tempat, maka jangan bertanya dengan pertanyaan “Alloh dimana?”. Karena Alloh tidak butuh mana-mana, Alloh tidak serupa dengan makhluknya .

Kepercayaan bahwa Alloh di atas langit adalah kesesatan dalam beraqidah. Hal-hal semacam itu harus diluruskan, bahkan ada di beberapa sekolahan yang siswa-siswi mereka, ditanya oleh gurunya dengan pertanyaan “Alloh dimana ?” Itu adalah pertanyaan fitnah yang tidak membangun aqidah. Dan itu karena mana-mana adalah ciptaan Alloh , dan Alloh tidak butuh kepada ciptaanNya.

Ada diriwayatkan dari Imam Muslim tentang pertanyaan Rasulullah kepada seorang budak, dengan pertanyaan “Alloh dimana?” dan hal itu sudah dijelaskan oleh para Ulama panjang lebar dengan mendatangkan kisah budak tersebut dari riwa yat para Imam Ahli Hadits yang lainnya, hingga tidak menyisakan keraguan apapun bahwa Alloh tetap tidak butuh tempat.

Kelima; Rosululloh SAW yang dalam keadaan hidup bertemu dengan para Nabi dan Rasul yang telah meninggal dunia dan berdialog. Itu adalah mukjizat dan yang di fahami para Ulama bahwa orang yang hidup saat ini bisa saja bertemu dengan Nabi Muhammad SAW sebagai karomah yang diberikan oleh Alloh kepada orang tersebut. Dan inilah pengalaman para kekasih Alloh yang sangat banyak jumlahnya bertemu dengan Nabi SAW setelah Nabi Muhammad wafat.

Akan tetapi ada hal yang perlu diperhatikan bahwa berdusta atas nama Rasululloh adalah dosa besar dan ancamanya adalah neraka jahanam. Orang yang mengaku bertemu Rasululloh atau bermimpi bertemu Rasululloh dengan dusta tempatnya adalah neraka jahannam.

Penjelasan tentang kemungkinan seorang sholih bertemu Rasululloh SAW jangan membuka celah pendusta dan dajjal kecil untuk mengaku bertemu Rosululloh SAW karena gila pangkat penghormatan, maqom kemulyaan didunia dan ingin dianggap sebagai waliyulloh. Itulah wali syetan yang pendusta.

Semoga Alloh mempertemukan kita dengan Rasulullah SAW di lahir dan batin kita di dunia, di alam barzah, di padang makhsyar dan di surga Alloh SWT. Wallohu A’lam bishshowab

Sumber: https://www.facebook.com/buyayahya.albahjah/posts/2107444232641934?tn=K-R

(gen)

Sunnah Nabi itu Memang Super

SUNNAH NABI ITU MEMANG SUPER

1). Buang air besar duduk, beresiko tinggi terkena wasir/ambeien. BAB jongkok lebih bersih dan menyehatkan, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH.

2). Kencing berdiri beresiko prostat dan batu ginjal. Kencing jongkok lebih bersih dan menyehatkan, dan yang terpenting itu adalah SUNNAH.

3). Enzim di tangan membantu makanan lebih mudah dicerna. Dibanding dengan besi, kayu, atau plastik, makan dengan tangan lebih bersih, fitrah dan menyehatkan, dan yang terpenting itu adalah SUNNAH.

4). Makan dan minum berdiri dapat mengganggu pencernaan. Dengan duduk lebih santun dan menyehatkan, dan yang terpenting itu adalah SUNNAH.

5). Makan di kursi, masih kurang menyehatkan. Dengan duduk di lantai, tubuh akan membagi perut menjadi 3 ruang: udara, makanan dan air, dan yang terpenting itu adalah SUNNAH.

6). Makan buah setelah makan (cuci mulut) kurang bagus bagi lambung, karena ada reaksi asam. yang sehat adalah makan buah sebelum makan, membantu melicinkan saluran pencernaan dan membuatnya lebih siap, dan yang terpenting itu adalah SUNNAH.

7). Tidur tengkurep tidak bagus untuk kesehatan, bahkan itu tidurnya syetan. Tidur menghadap kanan lebih menyehatkan, dan yang terpenting itu adalah SUNNAH.

8). Banyak Rahasia Sunnah yang telah diteliti para pakar, dari segi hikmah, manfaat, dan kesehatan. Benarlah yang dikatakan: di balik sunnah ada kejayaan. Bagi kita, jika misalnya belum tahu manfaatnya, terus saja semangat mengikuti adab dan tuntunan Rasul. Manfaat itu efek samping, motivasi utamanya adalah mengikuti adab dan tuntunan Rasul.

9). Seorang dokter Eropa berkata:
“jika semua manusia mengamalkan 3 sunnah saja (sunnah makan, sunnah di Kamar Mandi, dan sunnah tidur), maka harusnya saya berhenti jadi dokter karena tidak ada pasien.“

Masya Allah..

Cintailah sunnah Nabi, tidak hanya adab-adab sehari tapi seluruh apa yang telah Rasulullah tetapkan dalam Islam “Mau yang disukai atau tidak.“

بَارَكَ اللهُ فِيْك

(gen)

Isra Mi’raj Untuk Keindahan

ISRA MI’RAJ UNTUK KEINDAHAN
Oase Iman: Buya Yahya

Diantara saat teramat indah yang dilalui oleh Rasulullah SAW adalah saat Isra Mi’raj, saat Rasulullah SAW berdialog khusus dengan Allah SWT. Sebuah kejadian yang tidak bisa disifati oleh siapa pun kecuali oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW melihat Allah SWT, Dzat yang tidak menyerupai apa dan siapapun. Sehingga cara melihatnya pun bukan urusan akal untuk memikirkanya, akan tetapi itu urusan hati untuk mengimaninya. Yang jelas hal itu pernah terjadi pada Rasulullah SAW dan yang pasti Rasulullah SAW melihat dengan mata hatinya.

Dimulai dari kebingungan Rasulullah SAW untuk bersalam kepada Allah SWT, hingga Allah SWT mewahyukan salam yang tepat dari hamba untuk-Nya yaitu “Attahiyyatul mubarokatush sholawaatuth thoyyibaatu lillah” (salam sejahtera yang penuh barokah dan salam sejahtera yang amat baik adalah milik Allah SWT). Saat itu pun Allah menjawab “Assalamu alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarokatuh” (Salam sejahtera, barokah dan rahmat Allah dilimpahkan kepadamu wahai Nabi Muhammad SAW). Kemudian salam itu diabadikan dalam perintah shalat yang dibawa oleh Rasulullah SAW dari perjalanan Isra Mi’raj.

Pesan yang bisa dibaca dari bacaan tasyahud ini adalah seorang hamba yang melakukan shalat sebenarnya adalah melakukan perjalanan menuju Allah SWT dengan berbekal diri dengan 3 bentuk kebaikan. Yang pertama: adalah hubungan baik dengan Allah SWT. Kedua: hubungan baik dengan Rasulullah SAW. Ketiga: hubungan baik dengan sesama manusia.

Seorang hamba yang benar-benar menghadap kepada Allah SWT dan berusaha menjalin hubungan baik kepada Allah SWT ternyata tidak cukup, akan tetapi ia harus menjalin hubungan baik kepada Rasulullah SAW.

Digambarkan dalam tasyahud tersebut seorang hamba yang menghadap kepada Allah SWT di dalam shalat ia harus mengucapkan salam kepada Rasulillah SAW untuk keabsahan sebuah penghambaan dan penghadapan.

Shalat yang merupakan ibadah yang digambarkan sebagai penghadapan khusus seorang hamba kepada Allah SWT akan tetapi justru disaat lagi khusuk-khusuknya kepada Allah SWT, seorang hamba harus mengingat makhluk agung Rasulullah SAW di dalam shalatnya. “Ya Rasulullah SAW alangkah agungnya dirimu disaat kami menghadap Penciptamu ternyata penghadapan kami pun tidak dianggap benar jika kami tidak mengingatmu”. Ternyata tidak cukup hanya mengingat akan tetapi harus mengucapkan salam dengan salam yang seolah-olah berdialog langsung dengan Rasulullah SAW.

Artinya sebanyak apapun seseorang beribadah kepada Allah SWT dengan sujud puasa dan haji yang tidak terhitung ternyata tidak ada maknanya jika tidak diiringi makna kecintaan kepada Rasulullah SAW dan banyak membaca shalawat untuknya.

Pesan selanjutnya, yang sudah baik kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW saja ternyata belum dianggap benar seperti yang digambarkan dalam bacaan tasyahud. Yaitu jika seorang hamba dalam shalatnya berhenti pada salam kepada Rasulullah SAW dan tidak melanjutkannya maka penghadapannya kepada Allah SWT ini pun tidak dianggap sah.

Maka demi kesempurnaan shalatnya seorang hamba harus mengucapkan “Assalamu alaina wa’ala ’ibadillahish sholihin” (Kesejahteraan semoga terlimpah kepada kami semua hamba Allah SWT dan hamba-hambaNya yang sholih). Maknanya ini adalah sebuah upaya menciptakan keindahan kepada sesama yang diikrarkan oleh seorang hamba disaat seorang hamba lagi khusuk menghadap kepada Allah SWT. Hal itu menunjukkan begitu besarnya kewajiban kita kepada sesama manusia. Sehingga belum dianggap baik seorang hamba yang banyak shalat, puasa dan membaca sholawat kepada Rasulullah SAW jika belum bisa menjalin hubungan baik kepada orang tua, saudara, tetangga dan masyarakatnya.

Kemudian disaat kita hendak keluar dari shalatpun kita harus mengucapkan kalimat “Assalamualaikum” dan bukan dzikir-dzikir yang lainya, seperti Laailaaha illallah dan Subhanallah. Itu artinya kita diingatkan kembali bahwa setelah kita shalat kita akan berhadapan dengan sesama kita. Sudahkah kita siap untuk menjalin keindahan dengan sesama tanpa dusta, gunjingan, aniaya dan perbuatan yang merugikan orang lain?

Itulah pendidikan keindahan yang bisa dipetik dari makna shalat dan kisah Isro Mi’raj, yaitu pendidikan keindahan yang sesungguhnya indah kepada Allah SWT, Rasulullah SAW dan sesama manusia. Sungguh benar orang yang telah shalat dengan benar akan terhindar dari kekejian dan kemungkaran. Wallahu a’lam Bish-Showab.

(gen)

Nasehat Ustadz Yazid Bin Abdul Qadir Jawas dalam Kewajiban Mendidik Anak

Setiap rumah tangga haruslah memiliki keinginan untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Sehingga setiap anggota keluarga harus memiliki peran dan menjalankan Amanah tersebut. Sang Suami sebagai kepala rumah tangga haruslah memberikan teladan yang baik dalam mengemban tanggung jawabnya karena kelak Allah ‘Azza wa Jalla akan mempertanyakannya di hari Akhir kelak.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَاْلأَمِيْرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang Amir (raja) adalah pemimpin, seorang suami pun pemimpin atas keluarganya, dan istri juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya. Setiap kalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan diminta pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya.”

(Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 893, 5188, 5200), Muslim (no. 1829), Ahmad (II/5, 54, 111) dari Ibnu ‘Umar radhi-yallaahu ‘anhuma. Lafazh ini milik al-Bukhari)

Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِنَّ اللهَ سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ أَحَفِظَ ذَلِكَ أَمْ ضَيَّعَ؟ حَتَّى يَسْأَلَ الرَّجُلَ عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ.

“Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada setiap pemimpin tentang apa yang dipimpinnya. Apakah ia pelihara ataukah ia sia-siakan, hingga Dia bertanya kepada seorang laki-laki tentang keluarganya.”

(Hadits shahih: Diriwayatkan oleh an-Nasa-i dalam ‘Isyratun Nisaa’ (no. 292) dan Ibnu Hibban (no. 1562) dari Shahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu. Al-Hafizh Ibnu Hajar menshahihkan hadits ini dalam Fat-hul Baari (XIII/113), lihat Silsilah ash-Shahiihah (no. 1636).)

Seorang suami harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjadi suami yang shalih, dengan mengkaji ilmu-ilmu agama, memahaminya serta mengamalkan apa yang diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam serta menjauhkan diri dari setiap yang apa yg dilarang Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam serta. Lalu dia mengajak dan membimbing isteri nya untuk berbuat demikian juga, sehingga anak-anaknya akan meneladani kedua orang tuanya karena tabiat anak memang cenderung untuk meniru apa-apa yang ada di sekitarnya.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mendidik anak, di antaranya sebagai berikut.

A. SECARA BAIK dan SABAR MENDIDIKNYA agar MENCINTAI ALLAH dan RASULULLAH

Mendidik anak dengan cara-cara yang baik dan sabar agar mereka mengenal dan mencintai Allah, yang menciptakannya dan seluruh alam semesta, mengenal dan mencintai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang pada diri beliau terdapat suri teladan yang mulia, serta agar mereka mengenal dan memahami Islam untuk diamalkan.

Ajarkanlah Tauhid, yaitu bagaimana mentauhidkan Allah, dan jauhkan serta laranglah anak dari berbuat syirik. Sebagaimana nasihat Luqman kepada anaknya,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.’” [Luqman:(31) 13]

B. Mengajarkannya Kalimat yang Baik serta Bacaan al-Qur’an sejak Dini

Pada usia balita (sekitar 2-5 tahun), kita ajarkan kepada mereka kalimat-kalimat yang baik serta bacaan Al-Qur’an, ajarkan kalimat-kalimat yang baik, seperti ajarkan kalimat Allah, Bismillah, Allahu Akbar, Alhamdulillah. Setiap mau makan ajarkan dengan tangan kanan, baca Bismillah.

Begitu pula ajarkan dan dengarkan bacaan al-Qur’an, dari mulai surat al-Fatihah, surat-surat yang pendek. Dibimbing terus setiap hari siang-malam.

Demikianlah sebagaimana dicontohkan para Shahabat serta generasi Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in, sehingga banyak dari mereka yang sudah hafal Al-Qur’an pada usia yang terbilang sangat belia.

Allah telah memberikan kelebihan kepada manusia pada masa kecilnya dengan kemampuan menghafal yang luar biasa. Oleh karena itu, orang tua harus pandai memanfaatkan kesempatan untuk mengajarkan anaknya dengan hal-hal bermanfaat pada usia-usia tersebut, terutama pada masa balita atau ketika anak masih berusia di bawah 5 tahun.

Usaha ini harus terus dijalankan, meskipun mungkin di sekitar tempat tinggal kita tidak ada sekolah semacam tahfizhul Qur’an. Kita dapat mengajarkan di rumah kita sendiri, sesuai dengan kemampuan kita, karena secara hakikat atau pada dasarnya Al-Qur’an itu mudah.

C. Memprioritaskan Perhatian pada Shalat dalam Pendidikannya

Perhatian terhadap shalat juga harus menjadi prioritas utama bagi orang tua kepada anaknya. Shalat merupakan tiang agama, jika seseorang melalaikannya niscaya agama ini tidak bisa tegak pada dirinya. Shalat ini pulalah yang pertama kali akan dihisab oleh Allah di akhirat.

Untuk itulah, hendaknya orang tua dengan tiada bosan senantiasa memberikan contoh dengan shalat di awal waktu dengan berjamaah di masjid, mengajaknya serta menanyakan kepada anak-anaknya apakah dia telah menunaikan shalatnya ataukah belum.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur 7 tahun, dan kalau sudah berusia 10 tahun meninggalkan shalat, maka pukullah ia. Dan pisahkanlah tempat tidurnya (antara anak laki-laki dan anak wanita).”
(Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 495), Ahmad (II/180, 187) dengan sanad hasan, dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya radhiyallaahu ‘anhum. Dihasankan Imam an Nawawi dalam al maj’mu dan Riyadush Shalihin. Syaikh al Albani berkata : “sanadnya hasan shahih.” Lihat Shahih Sunan Abi Daud (II/401-402, no 509.))

Mengajak istri dan anak untuk melaksanakan shalat di awal waktu, merupakan salah satu perintah dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan kita untuk tetap sabar dalam menunaikan kewajiban tersebut, termasuk sabar dalam mengingatkan istri dan anak kita untuk tetap menegakkannya.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, (melainkan) Kami-lah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertaqwa.” [Thaahaa : 132]

Jika anak laki-laki sudah berumur 7 sampai 10 tahun, maka hendaklah seorang ayah mengajaknya ke masjid untuk menunaikan kewajiban shalat fardu dengan berjama’ah pada awal waktu. Ini merupakan pendidikan praktis yang sangat bermanfaat, karena dalam benak si anak akan tertanam kebiasaan dan perhatian mendalam tentang kewajiban yang mulia ini. Ada banyak hikmah dan manfaat yang terkandung di dalamnya.

Seseorang yang lalai dalam shalat, akan mengikuti hawa nafsunya. sebagaimana firman Allah:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

“Kemudian datanglah setelah mereka, pengganti yang mengabaikan shalat dan mengikuti keinginannya, maka mereka kelak akan tersesat.” [Maryam (19): 59]

Diantara bentuk menyia-nyiakan shalat ialah melalaikan kewajiban shalat, menyia-nyiakan waktu shalat dengan tidak melaksanakannya di awal waktu. Yang dengan sebab itu, mereka akan menemui kesesatan, kerugian, bahkan keburukan. Wallaahu a’lam.
[Lihat Tafsir Ibnu Katsir (V/243-244), terbitan Dar at-Thayybah]

D. Perhatian Orang Tua kepada Anaknya dalam Pembentukan Akhlah yang Mulia

Akhlak yang baik atau mulia memiliki kedudukan tinggi di dalam Islam. Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam menjelaskan bahwa yang banyak memasukkan manusia ke Surga adalah ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan akhlak yang mulia.

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ ؟ فَقَالَ : تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ , وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ؟ فَقَالَ : الْفَمُ وَالْفَرْجُ

Rasulullah ditanya tentang kebanyakan yang menyebabkan manusia masuk Surga, maka beliau menjawab: “Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” Dan ketika ditanya tentang kebanyakan yang menyebabkan manusia masuk Neraka, maka beliau menjawab: “Mulut dan kemaluan”

Hadist hasan: HR. At-Tirmidzi (no.2004), al-Bukhari dalam Adabul Mufrad (no.289/Shahih Adabul Mufrad [no.222]), Ibnu Majah (no.4246), Ahmad (II/291,392,442), serta Ibnu Hibban (no.476-at-Ta’liqatul Hisan), al-Hakin (IV/324) dari Abu Hurairah. At-Tirmidzi berkata: “Hadist ini shahih gharib.” Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadist ash-Shahihah (no.977).

Oleh karena itu, anak harus diajarkan akhlak yang mulia, jujur, berkata baik dan benar, berlaku baik kepada keluarga, saudara, tetangga, juga menyayangi yang lebih kecil serta menghormati yang lebih tua. Sebab, durhaka kepada kedua orang tua termasuk dosa besar yang terbesar setelah syirik (menyekutukan Allah). Maka orang tua harus memberikan teladan kepada anaknya dengan cara dia pun berbakti kepada orang tuanya dan berakhlak mulia.

E. Mengawasi Pergaulan Anak demi Menjaga Agamanya

Perlu diperhatikan pula teman pergaulan anaknya, sebab pengaruh buruk dari temannya akan berimbas pada perilaku dan akhlaknya. Sebagaimana disampaikan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang bergantung pada agama temannya. Maka hendaklah seorang dari kalian melihat siapa temannya.”

(Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4833), at-Tirmidzi (no. 2378), Ahmad (II/303, 334) dan al-Hakim (IV/171), dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadist ash-Shahihah (no. 927).

Apalagi kita mengetahui bahwa sesuatu yang jelek akan mudah sekali mempengaruhi hal-hal yang baik, namun tidak sebaliknya, terlebih dalam pergaulan muda-mudi seperti sekarang yang cenderung melanggar batas-batas etika orang Muslim. Mereka saling khalwat (berduaan antara lawan jenis), sehingga bisikan setan akan menjerumuskan diri kepada zina.

Atau pengaruh obat-obat terlarang yang bisa menjadikan dirinya bergantung dan merasa ketagihan terhadap obat-obat penenang yang diharamkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan (NARKOBA) oleh generasi muda Muslim banyak menjerumuskan mereka kepada kehinaan, kesengsaraan, dan berbagai penyakit yang berbahaya.

Usaha yang telah kita curahkan beberapa tahun bisa saja menjadi sia-sia hanya karena anak kita salah memilih teman bermain di sekolah. Untuk itu, akhlak teman anak kita haruslah diperhatikan; apakah dia memiliki pemahaman agama yang baik; apakah shalatnya baik; apakah dia selalu nasihat-menasihati dan tolong-menolong dalam kebajikan?

F. Berdo’a kepada Allah untuknya dan Keluarga pada setiap waktu yang Mustajab

Di samping ikhtiar untuk membina istrinya sebagai istri yang shalihah, hendaknya seorang suami juga memanjatkan do’a kepada Allah ‘Azza wa Jalla pada waktu-waktu yang mustajab (waktu terkabulkannya do’a), seperti : sepertiga malam yang terakhir. Tujuannya tidak lain supaya keluarganya dijadikan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah; serta agar dia, istrinya, dan anak-anaknya dijadikan termasuk orang-orang yang shalih dan shalihah.

Begitu pula halnya seorang istri berdo’a kepada Allah agar suaminya menjadi laki-laki yang shalih, agar suami menjadi pemimpin yang baik dalam rumah tangga, dan agar anak-anaknya menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah.

Seperti do’a yang tercantum di dalam Al-Qur’an:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“…Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” [Al-Furqaan : (25)74]

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

“… Ya Rabbku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.” (QS. An-Naml [27]: 19)

Seorang suami harus menjadi teladan dalam keluarganya, dihormati oleh sang istri dan anak-anaknya, kemudian mereka menjadi hamba-hamba Allah yang shalih dan shalihah, bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan menjadi orang yang bersyukur.
Semoga apa yang menjadi harapan kita terkabul. Amin.

G. Mengajarkannya Doa-doa dan Dzikir-dzikir yang Shahih

Hendaklah orang tua mengajarkan anak-anaknya berbagai doa dan dzikir shahih yang mudah dihafal. Doa dan dzikir ini sangat bermanfaat untuk dibaca setiap hari di dalam rumah.

Ajarkan juga dzikir pagi dan sore supaya suami, istri, dan anak-anak membaca dzikir pagi dan sore, dzikir-dzikir dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi.

Yang demikian itu dilakukan sebagai pengamalan Sunnah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, dan juga penjagaan diri dari godaan syaitan.
(Silahkan baca dua buku penulis: Doa dan Wirid dan Dzikir Pagi dan Petang yang diterbitkan oleh Pustaka Imam asy-Syafi-I, Jakarta.)

Contoh dzikir yang mudah seperti membaca bismillah ketika mau makan, minum dan mulai sesuatu yang baik; Alhamdulillah apabila selesai makan atau minum. Setelah makan baca doa;

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ

“Segala puji bagi Allah yang telah memberi makanan ini kepadaku, dan Dia yang telah memberi rezeki kepadaku tanpa daya dan kekuatan diriku”

HR. Abu Dawud (no. 4023), at-Tirmidzi (no. 3458), Ahmad (III/439), Ibnu Majah (no. 3285), Ibnus Sunni (no. 467), serta al-Hakim (I/507, IV/192). Lihatlah kitab shahih at-Tirmidzi (III/159, no. 2751) dan Irwa-ul Ghalil (no.2989)


Dinukil dari buku PANDUAN KELUARGA SAKINAH bab 16, hlm 250 sd 258 Penerbit Pustaka Imam Syafi’i- Jkt cet. Ke 15, karya Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.

(gen)

Tentang Gerd atau Maag

🌱Apa itu Gerd? 
(Gastroesofagal Refluks)

meninggal mendadak akibat Gerd, Apa bisa ?

Yuk kita belajar…

Setidaknya baca dulu apa artinya supaya lebih aware sama Badan kita. 
Enjoy your life.
Nikmati hidup dan bersyukur sebanyak-banyaknya.

Continue reading

Cara Berjalan Menurut Rasulullah

Berjalan menjadi aktivitas yang tidak bisa dilepaskan dalam keseharian manusia, baik itu di dalam ruangan maupun di luar ruangan.

Akan tetapi apakah ada ketentuan dan adab-adab syariat yang mesti kita lakukan?

Continue reading

Rahasia Dahsyatnya Istighfar

Istighfar adalah satu bentuk zikir untuk mengingat Allah. DR Aidh Al Qarni dalam bukunya menuliskan bahwa istighfar mampu membukakan gembok-gembok pengunci, mendamaikan hati, dan melenyapkan keresahan.

Continue reading

Penyalahgunaan Qaidah Fiqh Untuk Mengikuti Pemilu

Biasanya, menjelang Pemilu akan berseliweran di pelbagai media berbagai justifikasi agar umat Islam terlibat dalam Pemilu. Sebagiannya menggunakan kaidah-kaidah fikih (al-qawa’id al-fiqhiyyah). Misalnya kaidah adh-dharurah tubih al-mahzhurat, yang berarti kondisi darurat membolehkan hal-hal yang diharamkan. Maksudnya, keikutsertaan umat dalam Pemilu dalam sistem demokrasi sekarang, diakui hukum asalnya haram. Pasalnya, Pemilu Legislatif berarti memilih wakil rakyat yang di parlemen akan melegislasi hukum kufur, bukan hukum syariah Islam.

Continue reading

Pentingnya Adab

Suatu ketika Imam Yahya bin al-Qaththan, setelah melaksanakan shalat ashar, bersandar di bawah menara masjid beliau. Di sekitar beliau ada Ali bin al-Madini, asy-Syadzakuni, Amru bin Ali, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Main serta ulama lainnya yang ingin berguru kepada beliau. Mereka berdiri hingga menjelang shalat magrib.

Continue reading